Logo GKPI

Tuhan Mengasihi Segala Bangsa: Spiritualitas Mengimplementasi Penginjilan dan Misi di GKPI

Nas: Maleakhi 1:1–6 | Ibadah Minggu
🗓️ Tanggal: 16 Nov 2025
👤 Penulis: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit

PENDAHULUAN: SPIRITUALITAS PANGGILAN GEREJA

Dunia yang kita tempati hari ini adalah dunia yang retak. Di berbagai negara, konflik identitas, polarisasi politik, serta benturan etnis meningkat dengan tajam. Media sosial memperlihatkan bagaimana manusia semakin mudah menghakimi kelompok yang berbeda. Dalam kehidupan beragama pun tampak kecenderungan eksklusivitas, seolah-olah hanya kelompok tertentu yang layak menerima kasih, sementara yang lain dipandang sebagai ancaman. Di Indonesia, polarisasi sosial, sikap intoleransi, dan kecenderungan menarik diri dari ruang dialog memperlihatkan bahwa kasih semakin langka di ruang publik.

Dalam konteks inilah GKPI memasuki Renstra Tahap III Tahun 2026 dengan fokus pada Penginjilan dan Misi. Gereja menghadapi pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin gereja mewartakan kasih Allah di tengah dunia yang semakin sulit mengasihi? Bagaimana mungkin gereja menjalankan misi jika masyarakat sendiri sedang kehilangan kepercayaan terhadap kasih dan kebaikan?

Jawaban itu muncul dari firman Tuhan dalam Maleakhi 1:1–6. Ketika umat Israel berada dalam keadaan terpukul setelah pembuangan, lelah dalam ibadah, kehilangan semangat untuk melayani, dan bahkan meragukan kasih Tuhan, Tuhan memulai firman-Nya dengan deklarasi yang lembut namun tegas: "Aku telah mengasihi kamu." (1:2). Ini adalah kata pertama Tuhan kepada umat-Nya yang bingung dan kecewa. Tuhan tidak memulai dengan ancaman, bukan dengan teguran tajam, melainkan dengan pernyataan kasih yang meneguhkan identitas mereka.

Kasih ini bukan hanya untuk Israel; pernyataan ini menjadi jawaban bagi fenomena zaman kita. Jika dunia kita sedang kehilangan kasih, maka misi gereja hanya dapat dimulai dari satu tempat: kesadaran bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi. Dari kasih inilah gereja bertolak untuk mengasihi dunia. Dari sini pula Renstra GKPI 2026 menemukan landasan teologisnya.

"AKU TELAH MENGASIHI KAMU" — KASIH SEBAGAI DASAR MISI (Maleakhi 1:1)

Deklarasi Tuhan dalam Maleakhi 1:2 berbunyi: "Aku telah mengasihi kamu." Secara linguistik, bentuk kata kerja Ibrani “אָהַבְתִּי / ahavti berada dalam bentuk perfect, yang menunjuk pada tindakan yang tuntas, tetapi efeknya terus berlangsung. Dengan demikian, Tuhan ingin menegaskan bahwa kasih-Nya bukanlah respon terhadap kebaikan umat, bukan pula emosi yang berubah-ubah mengikuti keadaan mereka. Kasih itu adalah dasar, fondasi, dan sumber keberadaan umat Allah. Bahkan ketika umat mempertanyakannya, "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?", pertanyaan itu menunjukkan betapa jauhnya mereka telah tersesat dari kesadaran kasih itu.

Maleakhi menempatkan pernyataan kasih ini sebagai bagian dari bentuk rîb, suatu gugatan ilahi di mana Tuhan mengingatkan hubungan perjanjian yang telah dilupakan. Bukan Tuhan yang berubah, tetapi umat yang melupakan identitasnya. Tuhan menyatakan kembali kasih-Nya agar mereka menemukan orientasi yang benar dalam kehidupan iman. Tanpa kesadaran kasih, ibadah menjadi ritual kosong; pelayanan menjadi kewajiban; dan misi menjadi beban.

Dalam perspektif filosofis, pernyataan kasih Tuhan dapat dibandingkan dengan gagasan Plato tentang yang baik sebagai sumber dan tujuan segala sesuatu. Aristoteles bahkan menyebut yang baik sebagai the unmoved mover, penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh apa pun. Dalam terang iman, kasih Tuhan adalah penggerak pertama dari semua tindakan misi. Kasih-Nya menggerakkan gereja, dan gereja bergerak karena disentuh oleh kasih itu. Tanpa menyadari kasih ini, misi gereja kehilangan arah.

Di pihak lain, Agustinus (seorang Bapa Gereja dan teolog besar abad ke-4/5 yang pemikirannya sangat memengaruhi teologi Kristen, khususnya tentang kasih karunia, gereja, dan hubungan manusia dengan Allah) melalui pendapatnya gratia praeveniens menjelaskan bahwa kasih Allah selalu mendahului respons manusia. Kita tidak mungkin mengasihi atau bermisi jika tidak terlebih dahulu dialiri oleh kasih Allah. Dengan demikian, Maleakhi menegaskan sesuatu yang sangat fundamental: misi bukan dimulai oleh keinginan manusia, melainkan oleh kasih Allah yang telah dinyatakan dan terus bekerja di sepanjang sejarah.

"YAKUB-ESAU": PEMILIHAN BUKAN EKSKLUSIVITAS, MELAINKAN PENUGASAN (Maleakhi 1:2–3)

Setelah menyatakan kasih-Nya, Tuhan mengingatkan umat tentang pemilihan Yakub: "Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi Aku membenci Esau." (1:2–3). Ayat ini sering disalahpahami sebagai gambaran bahwa Tuhan membenci suatu bangsa. Namun dalam tradisi Ibrani, kata membenci (שָׂנֵא / sane’) dapat berarti memilih lebih sedikit atau menempatkan dalam prioritas yang berbeda. Secara harafiah, Tuhan tidak membenci Esau; Ia hanya memilih Yakub sebagai jalur janji keselamatan.

Analisis teks menunjukkan, penekanan utama bagian ini bukan pada emosi atau kemarahan Tuhan, tetapi pada fungsi pemilihan. Israel dipilih bukan untuk disanjung, melainkan untuk ditugaskan. Pemilihan ini tidak membuat Israel lebih baik atau lebih tinggi; justru pemilihan menuntut tanggung jawab yang besar. Dalam hal itulah, Tuhan menegur Israel yang merasa berhak menerima kasih, padahal tujuan pemilihan adalah agar Israel menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Kejadian 12:3).

Yohanes Krisostomus (Bapa Gereja abad ke-4 yang dikenal sebagai pengkhotbah besar Gereja Timur, dengan khotbah-khotbahnya yang tajam, mendalam, dan sangat berpengaruh dalam tradisi Kristen awal) menafsirkan pemilihan ini dengan sangat indah: "Dipilih bukan untuk diistimewakan, tetapi untuk ditugaskan." Pemilihan adalah panggilan, bukan hak istimewa atau status yang harus disanjung setinggi-tingginya. Setiap bangsa yang dipilih Tuhan, dipanggil untuk menjalankan misi-Nya.

Jika kita menempatkan perspektif ini dalam konteks GKPI, maka pemilihan gereja bukanlah alasan untuk menutup diri atau berbangga diri, tetapi untuk mengabdi. GKPI dipanggil untuk menjadi saluran kasih, bukan wadah eksklusif kasih. Karena itu, misi GKPI 2026 bukan tentang memperkuat identitas institusional, tetapi tentang memperluas jangkauan kasih Tuhan kepada berbagai lapisan masyarakat.

TUHAN YANG DIKENAL OLEH SEGALA BANGSA - KASIH YANG BERSIFAT UNIVERSAL (Maleakhi 1:4–5)

Maleakhi melanjutkan dengan menegaskan bahwa kasih Allah yang dinyatakan kepada Israel akan berdampak luas: "TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel." (1:5). Pernyataan ini menembus pemahaman eksklusif yang mungkin muncul dari pemilihan Yakub. Tuhan tidak sedang membatasi diri pada satu bangsa; Ia sedang membuka jalan agar seluruh bumi mengenal kemuliaan-Nya.

Ungkapan "di luar daerah Israel" menjadi semacam jendela teologis yang menunjukkan, kasih Allah bersifat universal. Tuhan tidak terkungkung oleh batas etnis, budaya, atau geografi. Pemilihan Israel bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana agar bangsa-bangsa datang mengenal Allah. Di sini kita menemukan warna misioner Perjanjian Lama yang sering tersembunyi di balik narasi sejarahnya: visi Allah selalu melampaui Israel.

Perspektif Ireneus dari Lyon (Bapa Gereja abad ke-2 yang terkenal karena membela iman Kristen dari ajaran sesat dan mengajarkan bahwa Allah sedang memulihkan seluruh umat manusia melalui rencana keselamatan-Nya) mengenai recapitulatio, Allah sedang mengembalikan seluruh umat manusia ke dalam rencana kasih-Nya, sangat sesuai dengan bagian ini. Kasih Allah tidak pernah dimaksudkan untuk segelintir orang. Allah menginginkan seluruh ciptaan kembali kepada-Nya. Maleakhi menjadi bagian dari persiapan panjang menuju penggenapan kasih itu di dalam Kristus, yang kemudian mengutus gereja ke segala bangsa.

Dari sinilah GKPI harus melihat arah misinya: misi tidak boleh dibatasi oleh batas administratif gereja, batas kultural etnis, atau batas tradisi tertentu. Jika Tuhan ingin dikenal “di luar daerah Israel,” maka GKPI pun harus memperluas horizon pelayanannya, termasuk pada masyarakat urban, kelompok lintas suku, diaspora Batak, serta ruang digital sebagai "wilayah baru" misi kontemporer.

KASIH YANG MENUNTUT RESPONS - IBADAH SEBAGAI IDENTITAS MISIONER (Maleakhi 1:6)

Bagian penutup perikop ini berisi teguran Tuhan: "Jika Aku adalah Bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu?" (1:6). Setelah menyatakan kasih-Nya, Tuhan menuntut respons yang sepadan. Umat telah menerima kasih yang besar, tetapi ibadah mereka tidak mencerminkan penghargaan terhadap kasih itu. Mereka beribadah dengan hati yang dingin, mempersembahkan korban yang cacat, dan menjalankan ritus hanya sebagai rutinitas.

Secara teologis, Tuhan tidak tersinggung oleh kesalahan teknis, tetapi hanya oleh hilangnya kesadaran akan hubungan. Seperti seorang anak yang tidak menghormati ayahnya, Israel gagal merespons kasih Allah. Ketika ibadah kehilangan makna, misi pun kehilangan kekuatan.

Gregorius Agung (Paus abad ke-6 yang dikenal sebagai pembaru Gereja, pemimpin rohani yang rendah hati, serta penulis berpengaruh yang membentuk spiritualitas dan liturgi Kristen Barat) pernah berkata bahwa ibadah tanpa hati adalah seperti "tubuh tanpa jiwa"; tampak hidup, tetapi sebenarnya mati. Maleakhi menegur umat karena ibadah yang tidak mengalir dari kasih. Dengan kata lain, misi tanpa ibadah adalah program kosong. Ibadah tanpa kesadaran kasih adalah ritual hampa. Dan misi serta ibadah keduanya hanya dapat hidup jika berakar pada kasih Allah.

PENUTUP – KASIH YANG MELAMPAUI BATAS, MISI YANG MENGALIR DARI KASIH

Maleakhi 1:1–6 memperlihatkan, Allah memulai segala sesuatu dengan kasih. Kasih itu bukan hanya untuk Israel, tetapi untuk seluruh bangsa. Pemilihan bukanlah hak istimewa, melainkan penugasan misioner. Tuhan ingin dikenal sampai melampaui batas Israel, sampai ke ujung bumi. Kasih inilah yang menjadi dasar ibadah sejati dan misi yang hidup.

Dalam terang ini, Renstra GKPI Tahap III Tahun 2026 harus berdiri di atas fondasi, misi adalah perpanjangan dari kasih Allah yang universal. Gereja tidak boleh terjebak dalam eksklusivitas atau kesibukan internal. Gereja harus bergerak keluar, mengalirkan kasih Tuhan kepada semua orang, di mana pun mereka berada: di kampung, di kota, di diaspora, di dunia digital, dan di setiap lapisan masyarakat.

Tuhan yang berkata, "Aku telah mengasihimu," adalah Tuhan yang juga berkata, melalui sejarah dan melalui Alkitab: "Aku mengasihi segala bangsa." Kiranya gereja-Nya menjadi saluran kasih itu tanpa batas.

📤 Bagikan via WhatsApp ← Kembali ke Daftar Khotbah