Logo GKPI

Sukacita di Ujung Jerih Payah: Belajar Menikmati Karunia Allah

Nas: Pengkhotbah 5:12-19 | Ibadah Kategorial
🗓️ Tanggal: 12 Nov 2025
👤 Penulis: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit

Masa tua adalah bagian hidup yang sarat dengan perenungan. Banyak di antara kita yang telah melewati jalan panjang: bekerja keras, membesarkan anak-anak, menanggung berbagai beban hidup, dan melalui banyak suka serta duka. Kini ketika usia menua, tubuh tak lagi sekuat dulu, pendengaran mulai berkurang, dan langkah menjadi lebih pelan. Ada yang merasakan kesepian karena pasangan hidup telah mendahului, atau karena anak-anak sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Tidak sedikit pula yang mulai merasa tidak berguna, seolah hari-hari yang tersisa hanya menunggu waktu. Namun di tengah perubahan dan keterbatasan itu, firman Tuhan hari ini datang membawa kabar yang menenangkan: bahwa hidup yang telah dijalani, dengan segala jerih payahnya, tetap merupakan karunia dari Allah yang patut disyukuri.

Kitab Pengkhotbah ditulis oleh seseorang yang merenungkan kehidupan dari pengalaman panjang dan mendalam. Ia menyaksikan bagaimana manusia bekerja keras, berjuang untuk memperoleh harta dan keberhasilan, tetapi akhirnya semua itu tampak fana dan cepat berlalu. Ia berkata, “Orang yang bekerja keras dapat tidur nyenyak, entah ia makan sedikit atau banyak, tetapi orang kaya yang berlimpah tidak dapat tidur karena kekhawatirannya” (ay. 12). Di sini kita diajak untuk melihat bahwa ketenangan hati lebih berharga daripada kekayaan materi. Orang yang puas dan bersyukur atas bagian hidupnya akan menikmati damai yang sejati, sementara orang yang tamak tidak akan pernah tenang.

Lebih jauh, Pengkhotbah mengingatkan bahwa manusia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, dan akan kembali dengan tangan kosong (ay. 15). Semua hasil kerja, harta, dan jerih payah dapat lenyap dalam sekejap. Namun di tengah kesementaraan itu, ia menemukan satu rahasia hidup yang benar: menikmati hasil jerih payah sebagai karunia Allah. Di ayat 18–19, ia berkata bahwa makan, minum, dan menikmati hasil kerja adalah pemberian Tuhan. Ini bukan sekadar anjuran untuk bersenang-senang, melainkan undangan untuk hidup dalam kesadaran penuh akan kasih dan penyertaan Allah.

Bagi kaum lansia, pesan ini sangat relevan. Pada usia yang senja, sering kali muncul rasa penyesalan atau kekhawatiran: apakah hidup ini telah berguna, apakah kerja keras selama ini sia-sia? Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa nilai hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan dari seberapa dalam kita mampu bersyukur dan menikmati kasih Allah setiap hari. Menikmati hidup bukan berarti berpesta, tetapi menghargai hal-hal sederhana — secangkir teh hangat di pagi hari, suara cucu yang tertawa, sinar matahari yang lembut di sore hari, atau keheningan doa di malam hari. Semua itu adalah tanda kasih Allah yang nyata.

Sukacita sejati bagi orang yang menua tidak terletak pada apa yang masih bisa dikerjakan, melainkan pada kemampuan untuk menerima diri apa adanya dan berdamai dengan masa lalu. Dalam dunia yang cepat berubah ini, banyak lansia merasa tertinggal. Namun iman mengajarkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia tetap memelihara, sama seperti ketika kita masih muda. Maka bersyukurlah untuk setiap napas, untuk setiap kesempatan yang masih diberikan. Karena setiap hari, betapapun biasa kelihatannya, adalah hari yang dikaruniakan Tuhan untuk kita nikmati.

Dalam kehidupan pastoral, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan kaum lansia untuk menghidupi pesan Pengkhotbah ini. Pertama, mulailah hari dengan doa syukur. Sebutkan tiga hal kecil yang patut disyukuri hari itu. Latihan sederhana ini dapat menumbuhkan damai dan semangat baru. Kedua, jaga relasi yang hangat dengan keluarga dan sesama. Jangan biarkan kesepian menguasai hati. Hadirlah di persekutuan lansia, atau jalin percakapan dengan sahabat lama. Ketiga, teruslah memberi, sebab memberi kasih, waktu, dan doa juga merupakan bentuk jerih payah yang mendatangkan sukacita batin. Dan keempat, nikmatilah hasil kerja dengan bijak. Gunakan waktu untuk hal-hal yang menenangkan hati: berkebun, menulis, merenung, atau berdoa bagi generasi muda.

Hidup yang bersyukur adalah hidup yang penuh damai. Meskipun tubuh melemah, iman yang kuat akan menuntun kita menemukan makna yang baru di masa tua. Allah tidak menilai dari banyaknya hasil kerja, tetapi dari hati yang mampu menikmati bagian hidupnya dengan ucapan syukur. Seperti dikatakan Pengkhotbah, “Bersukacitalah dalam jerih payahmu, karena itu adalah bagianmu dari Allah.” Maka marilah kita belajar menerima setiap hari sebagai kesempatan baru untuk memuji Tuhan, menikmati kasih-Nya, dan membagikan kebaikan kepada orang lain.

Pada akhirnya, masa tua bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan puncak dari pengalaman iman, masa di mana seseorang belajar melihat hidup bukan dari apa yang belum dimiliki, tetapi dari apa yang telah dianugerahkan. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk bersukacita dalam jerih payah, menikmati hasilnya dengan hati yang penuh damai. Dan di situlah, kita menemukan kebahagiaan yang sejati: hidup dalam syukur kepada Allah yang setia dari awal sampai akhir.

📤 Bagikan via WhatsApp ← Kembali ke Daftar Khotbah