Logo GKPI

Memelihara Diri dalam Kasih Allah

Nas: Yudas 1:17-23 | Ibadah Minggu
🗓️ Tanggal: 09 Nov 2025
👤 Penulis: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit

Di tengah arus kehidupan modern, kita hidup di zaman yang penuh kelelahan rohani. Banyak orang beriman yang tampak aktif dalam kegiatan keagamaan, namun di dalam batin mereka terasa kosong, letih, dan kehilangan arah. Dunia digital yang menjanjikan kedekatan justru melahirkan jarak baru: kita terhubung tetapi tidak sungguh saling mengenal; kita saling melihat, tetapi jarang saling peduli. Nilai-nilai kasih yang dahulu menjadi pusat kehidupan iman sering tergantikan oleh kebutuhan akan pengakuan, popularitas, dan kecepatan. Gereja pun tidak luput dari risiko ini, menjadi komunitas yang sibuk, namun kehilangan kedalaman kasih.

Fenomena ini menunjukkan, kasih kini sering dipahami secara dangkal: cukup dengan perasaan simpatik sesaat, atau sekadar tanda hati di media sosial. Padahal kasih sejati adalah energi yang menuntut pemeliharaan, kedalaman, dan ketekunan. Inilah sebabnya surat Yudas berbicara dengan sangat relevan kepada situasi kita. Di tengah kekacauan moral dan keimanan yang dangkal pada zamannya, Yudas menulis dengan tegas: “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah.”

Yudas menulis kepada komunitas Kristen yang terguncang oleh ajaran-ajaran yang memutarbalikkan kasih karunia. Para pengajar palsu itu menggunakan anugerah sebagai alasan untuk hidup seenaknya, dan kebebasan sebagai dalih untuk meninggalkan kesetiaan kepada Kristus. Namun Yudas tidak menanggapi dengan kemarahan, melainkan dengan kasih yang mendalam. Ia menyapa jemaatnya dengan lembut: “Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih…” (ay. 20).

Kata “peliharalah” yang digunakan Yudas berasal dari bahasa Yunani τηρέω (tēreō) (Ay. 21)— artinya bukan sekadar menjaga, tetapi merawat dengan kewaspadaan dan kesetiaan. Kasih Allah bukan sesuatu yang bisa kita ciptakan, tetapi yang harus kita rawat agar tetap menjadi pusat kehidupan. Kasih itu seperti api suci yang telah dinyalakan oleh Allah sendiri. Jika tidak dipelihara, ia akan padam dalam diri kita.

Agustinus dari Hippo, seorang bapa Gereja besar abad ke-4 yang dikenal karena refleksi mendalam tentang kasih dan rahmat, pernah menulis: Kasih Allah tidak berkurang ketika kita menjauh, tetapi kita kehilangan kehangatannya ketika kita tidak lagi tinggal di dalamnya. Kasih Allah selalu ada, tetapi manusialah yang sering gagal untuk tinggal di dalamnya. Karena itu, Yudas menasihati agar kita tidak puas hanya dengan mengaku beriman, tetapi dia lebih lanjut menekankan, belajar memelihara kasih itu melalui tiga gerak rohani: membangun diri dalam iman, berdoa dalam Roh Kudus, dan pengharapan atas rahmat Kristus.

Membangun diri di atas iman berarti hidup di atas fondasi yang kokoh, bukan di atas sensasi atau opini. Kata yang dipakai, epoikodomeō (Ayat 20, menggambarkan proses membangun rumah , tahap demi tahap, batu demi batu. Iman tidak tumbuh secara otomatis, ia dibangun melalui Firman, persekutuan, dan pengalaman hidup yang diolah dalam terang kasih Allah. John Wesley, pendiri Metodisme abad ke-18 yang menekankan kekudusan praktis, mengatakan: “Tidak ada kekudusan yang soliter.” Iman tidak bisa dipelihara sendirian; ia bertumbuh di tengah komunitas yang saling menopang. Karena itu, gereja bukan sekadar tempat beribadah, tetapi rumah tempat kita saling meneguhkan kasih dan iman.

Lalu Yudas menambahkan: “Berdoalah dalam Roh Kudus.” Doa yang sejati bukan sekadar ucapan kata-kata, melainkan ruang di mana Roh Allah bekerja di dalam diri manusia. Doa dalam Roh bukanlah ritual, melainkan partisipasi dalam hidup Allah. Origenes, seorang teolog besar abad ke-3 yang dikenal karena tafsirannya yang mendalam terhadap Kitab Suci, pernah berkata: “Ketika kita berdoa dengan benar, Roh Allah berdoa di dalam kita.” Artinya, dalam doa sejati, manusia tidak berbicara kepada Allah dari kejauhan, melainkan diundang untuk berbicara bersama Allah. Dalam doa seperti inilah kasih Allah menjadi pengalaman yang hidup, bukan ide, tetapi perjumpaan.

Dan akhirnya, Yudas memerintahkan: “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus untuk hidup yang kekal.” Di sini, kasih tidak lagi dipandang sebagai perasaan, melainkan sebagai orientasi hidup. Hidup dalam kasih Allah berarti hidup dalam arah yang benar, bukan sekadar bertahan dalam dunia yang keras, tetapi terus berharap pada rahmat Kristus yang memperbarui segalanya. Kasih, dalam pengertian ini, adalah disiplin pengharapan: memelihara hati agar tidak menjadi dingin, menjaga iman agar tidak menjadi sinis, dan menantikan masa depan dengan sukacita.

Namun Yudas tidak berhenti pada dimensi pribadi. Ia menambahkan: “Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu; selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api.” Kasih Allah yang dipelihara tidak pernah berhenti pada diri sendiri; ia selalu meluap keluar. Bernard dari Clairvaux, biarawan abad ke-12 yang menulis secara mendalam tentang cinta ilahi, berkata: “Kasih sejati tidak pernah berhenti pada diri sendiri; ia menemukan kepenuhan ketika mengasihi yang lain.”Karena itu, memelihara diri dalam kasih Allah berarti juga menjadi penjaga kasih bagi orang lain: menolong mereka yang goyah, menegur mereka yang tersesat, dan menuntun mereka kembali pada kasih yang memulihkan.

Di sinilah teks khotbah minggu ini menjadi jawaban bagi dunia kita hari ini. Ketika kasih di dunia menjadi dangkal, teks ini memanggil kita untuk menjadikan kasih Allah sebagai disiplin hidup. Ketika banyak orang hidup dalam kebingungan dan kelelahan rohani, teks ini menuntun kita untuk berakar dalam iman dan doa yang sejati. Ketika dunia menebar sinisme, teks ini mengingatkan bahwa kasih yang dipelihara akan selalu melahirkan pengharapan.

Maka di tengah zaman yang lelah dan berisik ini, panggilan Yudas menjadi begitu nyata: “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah.” Kasih Allah bukan sekadar pelindung dari keburukan dunia, melainkan kekuatan yang mengubah dunia. Di sanalah kita menemukan kembali jati diri sebagai umat Allah — bukan sekadar orang yang percaya, tetapi orang yang tinggal, berakar, dan bertumbuh dalam kasih yang tidak pernah gagal.

Dan seperti penutup surat Yudas ini (ayat 24), kita diingatkan: “Bagi Dia yang berkuasa memelihara kamu supaya jangan tersandung, dan yang membawa kamu tanpa cacat dan penuh sukacita di hadapan kemuliaan-Nya, bagi Dialah kemuliaan, kebesaran, kuasa dan otoritas, sekarang dan sampai selama-lamanya.” Amin.

📤 Bagikan via WhatsApp ← Kembali ke Daftar Khotbah