Dalam kehidupan manusia modern yang penuh dengan kesibukan, kecepatan, dan tekanan, kasih sering kali menjadi hal yang hilang arah. Di tengah hiruk-pikuk ambisi dan pencapaian, manusia justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari kemanusiaannya: kehangatan kasih yang menenangkan hati. Kita belajar bekerja dengan giat, tetapi lupa bagaimana berbelas kasih; kita pandai mengatur waktu, tetapi lupa menyediakan waktu bagi orang lain. Ketika kasih memudar, manusia menjadi efisien tetapi kehilangan makna, sibuk tetapi kesepian, hidup tetapi kering di dalam. Søren Kierkegaard menulis bahwa âkasih adalah dasar dari keberadaan manusia; tanpa kasih, manusia berhenti menjadi manusia.â Pernyataan itu menegaskan bahwa kasih bukan sekadar emosi atau moralitas, melainkan cara eksistensial manusia untuk hadir di dunia.
Teks Imamat 19:9â18 mengingatkan kita akan hal itu. Di dalamnya, Allah berbicara kepada umat-Nya melalui perintah-perintah yang tampak sederhana namun memancarkan kedalaman spiritual. Perintah-perintah ini bukan hanya tentang etika sosial, melainkan tentang bagaimana manusia memelihara dirinya agar tetap hidup di dalam kasih Allah. Kekudusan yang Allah kehendaki tidak diukur dari seberapa sering seseorang beribadah, tetapi dari seberapa dalam ia mencintai sesamanya. Dalam konteks ini, kasih dan kekudusan tidak dapat dipisahkan. Kekudusan tanpa kasih menjadi kering dan dingin, sementara kasih tanpa kekudusan kehilangan arah dan kedalaman. Allah memanggil umat-Nya untuk hidup kudus dengan hidup dalam kasih.
Pesan pertama dari teks ini (ayat 9â10) mengajarkan bahwa kasih selalu memberi ruang bagi kehidupan orang lain. âApabila kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kaubabat ladangmu sampai habis, dan janganlah kautuai bulir-bulir yang terakhir dari penuaianmu⌠harus kautinggalkan itu bagi orang miskin dan bagi orang asing.â Perintah ini menyingkapkan logika kasih yang bertentangan dengan logika dunia: kasih bukan tentang mengambil sebanyak-banyaknya, melainkan tentang menahan diri demi memberi ruang bagi sesama. Allah sedang membentuk hati manusia agar menyadari bahwa hidup tidak boleh berpusat pada diri sendiri. Emmanuel Levinas menyebut bahwa wajah orang lain selalu membawa seruan moral: âengkau bertanggung jawab atas aku.â Dalam tindakan meninggalkan sebagian hasil panen, umat Israel sedang menjawab panggilan itu. Mereka diajar untuk memahami bahwa berkat yang mereka terima bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk kehidupan bersama. Dengan berbagi, mereka tidak kehilangan; justru di situlah mereka memelihara diri dari keserakahan yang menutup pintu kasih.
Kasih yang sejati juga hadir dalam kejujuran dan keadilan. âJanganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong, dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya⌠Upah seorang pekerja harian janganlah tinggal padamu sampai pagi hariâ (ayat 11â13). Perintah ini menegaskan bahwa kasih tidak hidup di tengah kebohongan atau penindasan. Allah memerintahkan kejujuran bukan hanya karena itu benar secara moral, tetapi karena kejujuran adalah bentuk kasih yang konkret. Orang yang jujur tidak melukai hati orang lain dengan tipu daya; ia memelihara diri agar tetap bersih di hadapan Allah. Kejujuran memelihara keselarasan antara batin dan tindakan, antara kata dan realitas.
Dalam dunia yang penuh manipulasi, kasih menuntun manusia untuk hidup dalam kebenaran, meski kebenaran itu tidak selalu menguntungkan. Ketika Allah melarang umat menahan upah pekerja, Ia sedang mengingatkan bahwa keadilan adalah bagian dari kasih. Immanuel Kant menulis bahwa âkeadilan adalah kondisi di mana kasih dapat bertahan.â Tanpa keadilan, kasih berubah menjadi sentimen yang lemah; tetapi di dalam keadilan, kasih menemukan kekuatannya. Dengan berlaku adil dan jujur, manusia tidak hanya menjaga sesamanya, tetapi juga menjaga dirinya dari kehancuran moral. Kasih yang jujur dan adil adalah kasih yang memelihara kehidupan bersama.
Selanjutnya, Allah mengingatkan bahwa kasih sejati juga harus menghormati kehidupan. âJanganlah engkau mengutuki orang tuli, dan di hadapan orang buta janganlah kauberi batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHANâ (ayat 14). Dalam kalimat sederhana itu, tersembunyi pesan besar: kasih adalah kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Allah menentang segala bentuk penghinaan terhadap yang lemah, karena di dalam diri mereka pun terdapat gambar dan kemuliaan Allah. Martin Buber dalam bukunya I and Thou menyatakan bahwa manusia hanya menjadi manusia ketika ia melihat yang lain bukan sebagai âituâ, tetapi sebagai âengkauâ. Kasih mengubah cara pandang kita terhadap orang lain â dari objek menjadi pribadi, dari beban menjadi sesama. Ketika kita menghormati sesama, terutama mereka yang rentan, kita sedang menghormati Allah sendiri.
Perintah âtakut akan Allahâ di akhir ayat ini mengingatkan bahwa kasih dan hormat terhadap Allah adalah dua sisi dari satu koin. Kita tidak bisa mengasihi Allah tanpa menghormati sesama, dan tidak bisa menghormati sesama tanpa takut akan Allah. Kasih sejati melahirkan rasa hormat, dan rasa hormat menjaga kasih agar tidak berubah menjadi iba yang dangkal. Di sinilah kasih menjadi tenaga moral yang mengangkat martabat manusia. Kasih tidak hanya menghibur, tetapi juga menegakkan kehidupan.
Akhir dari perikop ini (ayat 17â18) membawa kita pada inti spiritual seluruh teks: âJanganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu... janganlah engkau menuntut balas dan janganlah menaruh dendam... melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.â Di sini, kasih diperluas ke ranah terdalam â hati manusia. Allah tidak lagi berbicara tentang perbuatan lahiriah, tetapi tentang kondisi batin. Kebencian dan dendam bukan hanya melukai orang lain, tetapi juga menghancurkan diri sendiri. Dendam menutup pintu bagi damai dan menumbuhkan racun dalam jiwa. Kasih, sebaliknya, membebaskan manusia dari rantai kebencian.
C.S. Lewis pernah menulis bahwa âmemaafkan berarti melepaskan seorang tahanan, lalu menyadari bahwa tahanan itu adalah dirimu sendiri.â Itulah inti dari ayat ini. Mengasihi sesama seperti diri sendiri bukan hanya berarti memperlakukan orang lain dengan baik, tetapi juga membiarkan kasih Allah mengalir dalam diri kita tanpa terhalang oleh kebencian. Dalam pengampunan, manusia mengalami pembebasan batin; ia tidak lagi diperbudak oleh luka masa lalu, tetapi menjadi pribadi yang merdeka di dalam kasih Allah. Kasih semacam ini tidak muncul dari kekuatan manusia, melainkan dari kasih Allah yang bekerja dalam kelemahan kita.
Keseluruhan teks Imamat 19:9â18 menunjukkan bahwa kasih adalah dasar dan tujuan dari kehidupan iman. Kasihlah yang membuat kekudusan menjadi nyata, sebab kekudusan tanpa kasih hanyalah legalisme. Allah menghendaki agar umat-Nya hidup dengan kasih yang memberi ruang bagi sesama, kasih yang jujur dan adil, kasih yang menghormati kehidupan, dan kasih yang membebaskan dari kebencian. Keempat bentuk kasih ini bukanlah perintah terpisah, tetapi satu kesatuan gerak spiritual yang memelihara manusia agar tetap hidup di dalam terang Allah.
Memelihara diri dalam kasih Allah berarti menjaga hati agar tetap lembut, jujur, dan terbuka. Kasih mengajar kita untuk menahan diri dari keserakahan, menolak kebohongan, menghormati martabat hidup, dan mengampuni yang bersalah. Paul Tillich menyebut kasih sebagai âkeberanian untuk menerima dan memberi keberadaan.â Ketika manusia hidup dalam kasih, ia berani menjadi dirinya sendiri di hadapan Allah dan sesama, dan pada saat yang sama memberi ruang bagi keberadaan orang lain. Kasih seperti ini bukan tuntutan moral, tetapi kekuatan ilahi yang membentuk manusia menjadi cermin Penciptanya.
Kasih adalah rumah bagi jiwa manusia. Ia menenangkan hati yang resah, menuntun langkah yang hilang arah, dan memulihkan luka yang paling dalam. Ketika kasih itu dipelihara, hidup manusia menjadi tempat Allah berdiam. Dalam kasih, manusia menemukan makna terdalam dari hidup kudus: bukan menjauh dari dunia, melainkan hadir di dalamnya dengan hati yang memantulkan kasih Allah. Maka perintah itu terdengar lagi â sederhana namun tak tergantikan: âKasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.â (Imamat 19:18)