Logo GKPI

Tuhan Mendengar Seruan Hamba-Nya

Nas: Yakobus 5:12-18 | Ibadah Sektor
🗓️ Tanggal: 04 Nov 2025
👤 Penulis: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit

Dunia kita hari ini menjadi tempat di mana suara tidak lagi menenangkan, melainkan melelahkan. Manusia berbicara begitu banyak, menulis begitu cepat, dan bereaksi begitu spontan. Tetapi di balik semua itu, ada sunyi yang tidak tersentuh—sebuah kesepian yang lembut namun dalam. Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han menyebut dunia modern sebagai masyarakat kelelahan (The Burnout Society). Menurutnya, manusia masa kini bukan lagi diperintah oleh kekuatan dari luar, tetapi dituntut oleh dirinya sendiri: harus produktif, harus tampak kuat, harus selalu terdengar. Di tengah semua tekanan itu, kita kehilangan kemampuan untuk berhenti dan mendengarkan, baik kepada orang lain, maupun kepada batin sendiri. Kita hidup di antara gema tanpa arah, dan pelan-pelan kita mulai bertanya dalam hati: apakah masih ada yang benar-benar mendengar kita?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang lahir dari kedalaman manusia. Ia bukan sekadar persoalan komunikasi sosial, melainkan kerinduan spiritual yang paling purba: kerinduan untuk didengar. Sejak zaman purba, manusia menengadah ke langit dan berseru kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Seruan itu adalah bentuk pengakuan bahwa manusia tidak dapat bertahan hanya dengan kekuatan sendiri. Dan di balik setiap seruan itu, ada harapan bahwa ada Pribadi yang mendengar. Di sanalah iman lahir, bukan dari kepastian, melainkan dari keyakinan bahwa suara kita tidak hilang di tengah jagat yang luas ini.
Alkitab menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang mendengar. Ia mendengar ratapan umat-Nya di Mesir (Keluaran 3:7), mendengar keluh kesah Daud di padang gurun (Mazmur 34:7), dan bahkan mendengar doa Yesus yang lirih di taman Getsemani (Lukas 22:44). Mendengar, bagi Allah, bukanlah tindakan pasif; Ia hadir melalui pendengaran-Nya. Teolog Dietrich Bonhoeffer pernah menulis, doa bukanlah usaha manusia menembus langit, melainkan partisipasi manusia dalam pendengaran Allah terhadap dunia. Artinya, ketika kita berdoa, kita sedang masuk ke dalam keheningan Allah, keheningan yang tidak kosong, tetapi penuh perhatian.

Iman sejati bertumbuh dari keyakinan itu: bahwa Allah mendengar bahkan sebelum kita berbicara. Tidak ada air mata yang tidak diketahui-Nya, tidak ada keluh yang luput dari telinga kasih-Nya. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus berbicara, Allah justru mengundang kita untuk diam agar kita dapat didengar sepenuhnya. Doa menjadi ruang perjumpaan yang tenang—di mana yang letih menemukan keteduhan, yang rapuh menemukan sandaran, dan yang terluka menemukan penyembuhan.

Surat Yakobus menyalakan kembali keyakinan ini dalam bahasa yang sederhana namun dalam. “Hal yang terutama, saudara-saudaraku,” tulisnya, “janganlah kamu bersumpah, baik demi surga maupun demi bumi; tetapi hendaklah ‘ya’ kamu katakan ‘ya’, dan ‘tidak’ kamu katakan ‘tidak’” (Yakobus 5:12). Di sini Yakobus tidak sekadar berbicara tentang etika berbicara, tetapi tentang kemurnian hati. Dalam dunia yang penuh kepura-puraan dan kata-kata kosong, ia menegaskan bahwa kejujuran adalah bahasa iman yang sejati. Kata yang jujur adalah doa yang hidup; ia lahir dari hati yang tidak berpura-pura di hadapan Allah. Ketika manusia belajar berbicara dengan jujur, ia sekaligus belajar berdoa dengan benar. Karena doa yang sejati bukan rangkaian kata yang indah, tetapi ungkapan hati yang apa adanya.

Yakobus kemudian menulis, “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada yang bergembira, baiklah ia menyanyi!” (Yakobus 5:13). Iman, bagi Yakobus, adalah kesadaran bahwa seluruh hidup, baik duka maupun suka, adalah ruang dialog dengan Tuhan. Dalam penderitaan, doa menjadi tempat berlindung; dalam sukacita, nyanyian menjadi bentuk syukur. Dua kata Yunani penting yang digunakan Yakobus memperdalam maknanya: sozō berarti “menyelamatkan” dan egeirō berarti “membangkitkan.” Alkitab LAI menerjemahkannya menjadi “menyembuhkan” dan “mengangkat” (Yakobus 5:15). Dalam doa yang tulus, Tuhan bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi mengangkat kehidupan. Ia membangkitkan kembali yang runtuh, menyembuhkan luka yang lama, dan menegakkan yang hampir roboh.

Yakobus menutup perikop itu dengan pernyataan yang sarat makna rohani: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16). Kata “sangat besar kuasanya” diterjemahkan dari kata Yunani energeō, yang secara harfiah berarti “menghasilkan daya yang bekerja.” Doa, bagi Yakobus, bukan aktivitas pasif, tetapi tenaga yang hidup—daya yang bergerak dari hati manusia menuju kehendak Allah. Ia mencontohkan Elia: “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita; dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun… Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan” (Yakobus 5:17–18). Elia bukan tokoh yang luar biasa karena kehebatannya, tetapi karena kesetiaannya untuk tetap percaya bahwa Allah mendengar. Dalam doa Elia, manusia dan Allah berjumpa dalam kesetiaan: yang satu berseru, yang lain mendengar; yang satu menantikan, yang lain bertindak.

Di dunia modern yang makin terburu-buru, iman kepada Allah yang mendengar menjadi napas yang memulihkan. Dunia boleh menutup telinga, tetapi Allah tidak pernah tuli. Ia mendengar doa yang diucap dengan air mata, doa yang tidak lagi punya kata, bahkan doa yang hanya tinggal desir napas di dada yang letih. Ia mendengar bukan hanya untuk memberi jawaban, tetapi untuk hadir—untuk menuntun, meneguhkan, dan menyembuhkan. Oleh karena itu, jangan biarkan kebisingan dunia mematikan keberanian kita untuk berseru. Dalam setiap doa yang kita naikkan, Tuhan sedang menenun kasih-Nya dengan sabar. Dalam setiap diam, Ia sedang memeluk dengan lembut. Dalam setiap air mata, Ia sedang menulis kisah pengharapan baru. Dan dalam setiap seruan, Ia meneguhkan bahwa kasih-Nya lebih luas dari segala kesunyian kita.

Tuhan tidak pernah lelah mendengar. Ia mendengar bukan hanya isi doa, tetapi juga getar hati yang menyertainya. Ia mendengar yang kuat dan yang lemah, yang bersyukur dan yang berduka, yang masih percaya dan yang hampir menyerah. Dan pada akhirnya, di antara ribuan suara dunia, hanya satu suara yang paling Ia rindukan: suara hamba yang berseru dengan iman. Karena dari sanalah kasih-Nya mengalir, menghidupkan, menyembuhkan, dan membangkitkan dunia yang letih.

📤 Bagikan via WhatsApp ← Kembali ke Daftar Khotbah